Jumat, 02 Maret 2012

TRADISI-TRADISI DI PULAU JAWA


1.      Grebeg Maulud
Gerebeg atau Grebeg memiliki arti "Angin". Grebeg adalah salah satu tradisi dari Kraton Ngayogyakarta adat yang untuk pertama kalinya diselenggarakan oleh Sultan Hamengku Buwana I. Hal upacara kerajaan yang melibatkan seluruh Kerajaan, semua pejabat kerajaan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Secara formal, Grebeg adalah tradisi keagamaan yang diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat pada 12 Rabiul Awal. Perayaan hari ulang tahun Nabi Muhammad SAW sebagai upacara kerajaan ini dipelopori oleh Kesultanan Demak, dari waktu ke waktu dilestarikan oleh raja-raja Jawa yang kemudian dikenal sangat populer sebagai Garebeg Mulud. Grebeg juga dilaksanakan pada dua hari libur Islam (Idul Fitri dan Adha Idhul). Selama satu tahun ada tiga kali Grebeg, yaitu Grebeg Maulud, Grebeg Besar, Grebeg Syawal.
Sebelum Garebeg Mulud diselenggarakan, ada beberapa kegiatan tradisional yang diadakan sebelumnya, yaitu:
·         Upacara gaun latihan untuk kesiapan prajurit oleh Bupati Istana Nayoko Kawedanan Ageng Prajurit.
·         Upacara Numplak Wajik sebagai pertanda awal dari pembuatan gunung.
·         Upacara Hajad Dalem Miyosipun sebagai debit puncak upacara mengiring Hajad Dalem dengan pegunungan nyata dari Istana ke Masjid Agung Kyai Pengulu Kerajaan.
2.      Jenang Suro
Jenang Suro adalah tradisi masyarakat Jawa yang diselenggarakan pada tanggal 1 Muharram atau yang biasa disebut Tahun Baru Jawa 1 Suro. Masyarakat Banyuwangi di desa-desa selalu menyambutnya dengan selamatan khusus membuat Jenang Suro (Bubur Suro). Jenang Suro yang sepintas mirip dengan bubur Jakarta ini, dibuat hanya khusus pada bulan suro, tetapi tidak diseragamkan tanggal pembuatannya.
Jenang Suro terbuat dari beras, diberi kuah kare, ditaburi irisan dadar telor, kacang tanah goreng, irisan kelapa goreng, daun sledri dan cabe merah sebagai penghias. Saat selamatan digelar masyarakat tidak mengundang tetangga, atau diacarakan secara khusus. Niat dilafalkan dalam hati, kemudian setelah jenang selesai dimasak dan ditata penampilan. Selanjutnya akan diantar ke sanak saudara, tetangga, masing-masing satu piring.
Selain menggelar sendiri, keluarga Banyuwangi juga akan menerima balasan dari tetangga yang akan menggelar selamatan secara khusus pada hari berikutnya, pada hari yang sama atau hari sebelumnya. Acara ini, tidak diumumkan secara khusus melalu masjid, namun lebih kepada kesadaran individu. Mereka tanpa dikomando, selalu menyisihkan beras dan uang untuk meneruskan tradisi membuat Jenang Suro, meski kadang kurang faham apa arti semua yang mereka lakukan. Bila dalam satu hari ada lebih dari satu warga yang menggelar selamatan Jenang Suro, maka akan terjadi saling tukar Jenang Suro. Tidak ada istilah, karena ini sudah menggelar selamatan, terus tidak mendapatkan dari tetangga yang menggelar. Inilah mungkin yang perlu diungkap, apa sebetulnya konsep selamaten bagi Warga Banyuwangi.
Dalam Website Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pasuruan, Jawa Timur, ada pertanyaan dari warga Nahdliyin tentang hukum dari selamatan Jenang Suro. Mengingat tardisi untuk menyambut Tahun baru Islam itu, tidak ditemukan dalam buku fiqih (Syariat Islam). Ternyata, tradisi membuat Jenang Suro itu, juga berkembang di lingkungan Islam lainnya. Namun penulis belum mengetahui bentuk Jenang Suro yang dibuat orang di luar Banyuwangi. Mengingat selama penulis tinggal di Kediri tidak menemukan tradisi ini.
Masih dari Website PCNU Pasuruan, pengelola menjawab, meski tidak ada dalam fiqih Islam, tetapi tradisi itu tidak bertentangan sepanjang niatnya shodaqoh. Meskipun kegitan itu disebut Bid’ah, menurut Syeh Ibnu Hajar. Namun kitab Ar Roudl al Faaiq bahwa di dalam hal semacam itu terdapat pahala yang besar bagi orang yang melaksanakan dan menghidangkannya kepada fakir miskin. Bahkan menurut kitab Badai’uzzuhur hal tersebut termasuk mustahabbah.Apabila melakukan tradisi tersebut diyakini sebagai sebuah ajaran syari’at, maka termasuk bid’ah madzmumah (tercela). Namun saya menemukan tulisan menarik di: www.adilnews.com Pada tulisan itu, dibahas tentang tradisi merasayakan 10 Muharram:
“Di Jawa, pada bulan Muharam, tetangga saling berkirim ‘bubur Sura’ atau ‘jenang Suro’, sebuah makanan khas Muharam dan Asyura, yang berwarna putih (kesucian) dan bertabur warna merah (kesyahidan). Sebagian orang Jawa melakukan meditasi untuk merenungi diri di tempat-tempat sakral, melakukan “lek-lekan” (begadang) hingga pagi hari di beberapa tempat yang dianggap sakral. Ada pula yang melaksanakan upacara Grebeg Suro. Di Maluku dan Sulawesi, warga pesisisr enggan melaut di bulan ini. Di Sumatera, terutama di Padang, Riau, dan Aceh, diadakan upacara “Tabut” pada 10 Muharam. Bahkan, tarian Saman khas Aceh diduga sebagai jejak upacara ratapan Asyura yang disertai dengan pemukulan dada sebagai simbol kesedihan.
Ada apa di 10 Muharam dan Asyura? Menurut Dr. Zafar Iqbal, pakar sejarah budaya Persia dan Indonesia, dalam Kafilah Budaya (Citra: 2006), tradisi-tradisi itu berakar dari peristiwa ‘tanggal merah’ 10 Muharram (tanggal monumetal pembantaian Husain bin Ali bin Abi Thalib) yang terjadi di Karbala sekitar 89 tahun sejak wafatnya sang datuk, Muhammad saw. Sayang, sebagian besar umat Islam tidak lagi mengingatnya. Yang jelas, apa pun bentuk tradisinya, ada ‘tanggal merah’ (peritiwa berdarah) pada 10 Muharam.
Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriah”, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun, tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan “Asyura”.
Mengapa perlu diperingati? Dendamkah? Menurut Antoane Bara, penulis Kristen asal Suriah, dalam bukunya, The Saviour: Husain dalam Kristianitas (Citra:2007), pikiran manusia mana pun yang mengamati perjalanan hidup Husain bin Ali, yang dibantai bersama 73 anggota keluarga dan sahabatnya pada 10 Muharam, sudah pasti merasakan getaran cinta yang aneh dalam hatinya.”
Nah dari tulisan di atas, tampak adanya hubungan Jenang Suro dengan tradisi Islam. Namun kurang jelas, sebagai ungkapan menyanbut datangnya tahun baru 1 Muharram, atau sebagai upaya mengenang pembantain Huasin bin Ali Bin Abi Thalib tepaty 10 Muharram. Namun yang jelas, acara selamatan Jenang Suro dilakukan selama sebulan penuh, tanpa terpaku pada tanggal tertentu.
Secara fisik, bentuk Jenang Suro wong Banyuwangi sama seperti yang disiratkan dalam tulisan di atas. Ada warna putih dari bubur beras, ada warga merah dari hiasan cabe merah. Sedangkan kuahnya warga kuning, yaitu kuah kare berbahan kunyit. Menariknya, saat mengantar dengan piring. Penerima tingga menarik daun pisang yang dibentuk bular sebagai alas, kemudian dipindah ke piringnya sendiri. Kiranya menjadi pekerjaan kita bersama, untuk mengungkap makna tradisi dari selamatan Jenang Suro. Agar kita juga bisa menjelaskan kepada generai muda, bahwa yang dilakukan orang tuanya itu ada maknanya.
3.      Tradisi Malam 1 Suro di Tanah Jawa
Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.
Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.
Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.
Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.
Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.
Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan. Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri. Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.
4.      Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan
Masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, punya bermacam cara untuk menyambut Ramadhan. Misalnya, di Semarang, Jawa Tengah ada tradisi yang namanya “Dugderan”, yaitu sebuah kegiatan seperti pasar malam yang dilakukan seminggu sebelum ibadah puasa dimulai.
Lain kota, lain daerah, lain pula cara dan tradisinya dalam menyambut Ramadhan. Nah ini beberapa tradisi Jawa – yang saya tahu, yang biasa dilakukan manakala Ramadhan akan tiba.
-          Dugderan
Sebuah tradisi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Semarang yang konon sudah dimulai sejak tahun 1881. Dugderan ini digelar satu minggu sebelum Ramadhan, dan kegiatannya mirip seperti pasar malam. Dulu masyarakat Jawa, membunyikan bedug dan meriam sebagai tanda datangnya bulan Ramadhan, karena itu nama tradisi ini jadi Duderan yang diambil dari kata ‘dug’ atau suara bedug dan ‘der’ atau suara meriam.
-          Perlon Unggahan
-          Pisowanan
Tradisi ini juga biasa dilakukan oleh warga Banyumas, Jawa Tengah. Pisowanan, bisa diartikan dengan ungkapan ‘menghadap sesepuh”. Ritual dari tradisi Pisowanan ini adalah berziarah ke makam tokoh besar/agama di Banyumas. Selain berziarah ke makam, sejumlah panganan juga disediakan yang kemudian dibagi-bagikan kepada peserta ziarah. Tradisi Pisowanan ini konon sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu, dan tujuannya adalah untuk mempererat tali silaturahmi warga Banyumas di saat menjelang Ramadhan.
-          Nyadran
Kalau tradisi yang satu ini diadakan oleh warga Boyolali, Jawa Tengah – ada juga daerah lain (Jateng-Jatim) yang punya tradisi ini. Singkatnya, tradisi Nyadran ini adalah ziarah kubur yang dilakukan bersama-sama oleh warga Boyolali. Tradisi Nyadran yang biasa dilakukan menjelang Ramdhan, atau tepatnya pada tanggal 16 Sya’ban, juga diramaikan dengan kebiasaan membawa jajanan pasar dan buah-buahan ke makam, tapi jangan salah, bawaan makanan itu nantinya akan dibagi-bagikan kepada masyarakat yang ikut Nyadran. 
-          Padusan
Tradisi yang bermakna pembersihan lahir dan batin seseorang manakala akan datang bulan Ramadhan ini biasa dilakukan oleh masyarakat Klaten, Boyolali, Salatiga, dan Yogyakarta. Padusan ini merupakan ritual berendam atau mandi di sumur-sumur atau mata air yang dianggap “suci”. 
5.      Tradisi Selamatan
Dalam tradisi kejawan banyak dijumpai upacara-upacara ’selamatan’ dengan berbagai perlengkapan ‘ubo-rampenya’. Jika diteliti dengan seksama maka upacara selamatan tersebut merupakan wujud dari suatu doa. Doa dengan sanepan alias perlambang. Doa bil isyaroh sebenarnya.
Doa bil isyarah adalah berdoa dengan diwujudkan dalam berbagai perlambang dan tingkah laku dalam kehidupan. Contoh yang nyata adalah orang bekerja. Bekerja pekerjaan apa saja, tentu pekerjaan yang baik dalam arti yang sebenarnya. Dalam bahasa agama disebut dengan terminologi pekerjaan yang halal. Bekerja jika diniati yang benar maka merupakan suatu perwujudan dari doa dengan perbuatan nyata.
Dalam tradisi Jawa banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang sebenarnya merupakan doa bil isyarah, doa dengan wujud perlambang atau sanepan. Misalnya ketika ada orang hajadan ‘mantenan’ (mengwinkan) anaknya misalnya. Bagi orang Jawa maka tidak akan ketinggalan pasti ada daun janur, daun beringin dan juga batang tebu. Itu semua merupakan ungkapan doa dan harapan kepada Allah swt, Gusti Kang Akaryo Jagad.
Janur di’kirotobosokan’ dengan kata ‘ngejan-ngejan’ (arep-arep=berharap) sedangkan Nur artinya cahaya. Maknanya berharap akan kemuliaan yang merupakan berkah dari Ilahi kepada pengantin berdua. Janur juga sebagai simbul kelapa, dalam hal ini cengkir yang berarti ngencengke pikir atau membulatkan tekad. Artinya bagi mempelai berdua diharapkan untuk membulatkan tekad untuk mengarungi kehidupan baru. Tebu dimaknai antebing kalbu. Artinya juga sama, ketekadan yang bulat.
-          Selamatan Mitoni atau Tingkeban Orang Hamil
Secara umum selamatan mitoni atau ningkebi orang hamil dilaksanakan ketika kehamilan sudah menginjak usia tujuh bulan. Persediaan yang harus ada adalah tumpeng, procot, bubur merah putih atau disebut bubur sengkolo, sego (nasi) golong, rujak sepet ( dari sepet sabut kelapa muda ), cengkir gading dll. Semua ‘uborampe’ tersebut juga merupakan doa bil isyaroh, doa dengan perlambang. Perlambang-perlambang itu antara lain sebagai berikut :
·        Tumpeng atau buceng merupakan nasi yang dibentuk menyerupai kerucut, membentuk seakan-akan gunung kecil. Ini merupakan lambang permohonan keselamatan. Bagi masyarakat Jawa gunung melambangkan kekokohan, kekuatan dan keselamatan.
·        Procot. Sejenis penganan terbuat dai ketan yang dibungkus daun pisang bulat memanjang. Dinamakan dengan procot dengan harapan lahirnya si bayi kelak ‘procat-procot’, mudah maksudnya.
·        Bubur sengkolo merupakan bubur dengan warna merah dan putih. Merupakan lambang dari bibit asal-muasal kejadian manusia selepas Bapa Adam dan Ibu Hawa, yaitu diciptakan Allah melalui perantaraan darah merah dan darah putih dari ibu bapak kita. Harapan dari bubur sengkolo adalah mudah-mudahan yang punya hajad itu ‘kalis ing sambikolo’ terlepas dari segala aral bahaya, baik bayinya maupun keluarganya.
·        Sego atau nasi golong. sego golong merupakan doa agar rejekinya ‘golong-golong’ artinya banyak berlimpah ruah.
·        Rujak dari kirotobosonya menimbulkan arti ’saru yen diajak’ artinya tidak patut lagi kalau si istri yang lagi hamil tua itu diajak ‘ajimak-saresmi’ lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.
·        Cengkir. Ngencengake pikir artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan ‘titipan Ilahi’. Tekad untuk apa saja ? Ya tekad untuk memelihara dan mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekeri luhur.
6.      Tradisi Sya’ban
Tradisi Sya’ban adalah tradisi yang dilakukan masyarakat jawa dalam rangka menyambut bulan suci Romadhon. Tradisi ini sudah cukup lama dilakukan hanya saja bagi beberapa pemuka agama Islam mensinyalir ini adalah kegiatan yang menyimpang, namun ini tergantung dari sudut pandang  mana ini dikaji.
Menjelang puasa ada tradisi bagi masyarakat Jawa yang sampai saat ini masih hidup, yakni Megengan.. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang puasa. Tulisan ini tentu dengan maksud bahwa Islam Jawa memang memiliki sekian banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam. Tradisi ini sungguh-sungguh merupakan tradisi indigenius atau khas,  yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain. Tradisi ini ditandai dengan upacara selamatan ala kadarnya untuk menandai akan masuknya bulan puasa Ramadan yang diyakini sebagai bulan yang suci dan khusus.
Sama dengan tradisi-tradisi lain di dalam Islam Jawa, maka tradisi ini juga tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan dan mengawali pelaksanaannya. Tetapi tentu ada dugaan kuat bahwa tradisi ini diciptakan oleh walisanga khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Memang hal ini baru sebatas dugaan, namun mengingat bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa terutama yang menyangkut tradisi-tradisi baru akulturatif yang bervariatif tersebut kebanyakan datang dari pemikiran Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kiranya dugaan ini pun bisa dipertanggungjawabkan.
Megengan secara lughawi berarti menahan. Misalnya dalam ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Di dalam konteks puasa, maka yang dimaksud adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, bahwa upacara megengan berarti menjadi penanda bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan, minum, hubungan seksual dan nafsu lainnya.
Dengan demikian, megeng berarti suatu penanda bagi orang Islam untuk melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan yang sangat disucikan di dalam Islam. Para walisanga memang mengajarkan Islam kepada masyarakat dengan berbagai simbol-simbol. Dan untuk itu maka dibuatlah tradisi untuk menandainya, yang kebanyakan adalah menggunakan medium slametan meskipun namanya sangat bervariasi.
Nafas Islam memang sangat kentara di dalam tradisi ini. Dan sebagaimana diketahui bahwa Islam memang sangat menganjurkan agar seseorang bisa menahan hawa nafsu. Manusia harus menahan nafsu amarah, nafsu yang digerakkan oleh rasa marah, egois, tinggi hati, merasa benar sendiri dan menang sendiri. Nafsu amarah adalah nafsu keakuan atau egoisme yang paling sering meninabobokan manusia. Setiap orang memiliki sikap egoistik sebagai bagian dari keinginan untuk mempertahankan diri.
Namun jika nafsu ini terus berkembang tanpa dikendalikan, maka justru akan menyesatkan karena seseorang akan jatuh kepada sikap ”sopo siro sopo ingsung” atau sikap yang menganggap dirinya paling hebat, sedangkan yang lain tidak sama sekali. Nafsu amarah merupakan simbolisasi dari sifat egoisme manusia dalam berhadapan dengan manusia atau ciptaan Tuhan lainnya.
Kemudian nafsu lawwamah atau nafsu biologis atau nafsu fisikal, yaitu nafsu yang menggerakkan manusia untuk sebagaimana binatang yang hanya mementingkan nafsu biologisnya saja atau pemenuhan kebutuhan fisiknya saja. Nafsu ini memang penting sebab tanpa nafsu ini maka manusia tidak akan mungkin untuk mengembangkan diri dan keluarganya. Manusia butuh makan, minum, berharta, dan sebagainya.
Namun jika hanya ini yang dikejar maka manusia akan jatuh ke dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya saja tanpa mengindahkan kebutuhan lainnya yang juga penting. Maka yang menjadi penyeimbang di antara kebutuhan egoistik dan biologis tersebut adalah nafsu mutmainnah, yaitu nafsu keberagamaan atau etis yang mendasarkan semua tindakan berbasis agama. Nafsu mutmainnah inilah yang akan mengantarkan manusia agar sampai kepada Tuhannya.
7.      Tradisi Wayang
Wayang dikenal sejak zaman prasejarah yaitu sekitar 1500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat Indonesia memeluk kepercayaan animisme berupa pemujaan roh nenek moyang yang disebut hyang ataudahyang, yang diwujudkan dalam bentuk arca atau gambar. Wayang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga(Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity).
Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum, yang dikenal sebagaiwayang orang, dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana.
Pertunjukan wayang di setiap negara memiliki teknik dan gayanya sendiri, dengan demikian wayang Indonesia merupakan buatan orang Indonesia asli yang memiliki cerita, gaya dan dalang yang luar biasa.
Kadangkala repertoar cerita Panji dan cerita Menak(cerita-cerita Islam) dipentaskan pula. Wayang, oleh para pendahulu negeri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar